FilmBalikpapan.com – Di tengah arus modernisasi yang deras, masih ada sosok yang memilih untuk berdiri di sisi waktu yang lebih sunyi, tempat di mana cerita rakyat, mantra, dan pantun tua masih berbisik dalam bahasa leluhur. Dialah Marlia Susana, perempuan asal Kalimantan yang mendedikasikan hidupnya untuk menjaga tradisi lisan Borneo agar tak hilang ditelan zaman.
Sejak kecil, Marlia telah akrab dengan dunia teater dan seni tutur. Di usia tujuh tahun, ia sudah berani berdiri di atas panggung, menghidupkan kembali legenda dan kisah rakyat yang pernah hampir dilupakan. Dua maestro seni, Burhanuddin Soebely dan Korrie Layun Rampan, menjadi guru yang menyalakan bara semangatnya di dunia sastra dan budaya.
Kini, Marlia menjadi pemimpin dua sanggar seni di Balikpapan , Sanggar Danum Riwut Apuy Tana dan Sanggar Puisi Hati. Melalui kedua wadah itu, ia terus menanamkan kecintaan terhadap seni tutur dan puisi tradisional kepada generasi muda. Karya-karyanya telah mengharumkan nama Balikpapan dan Kalimantan Timur di berbagai ajang, mulai dari tingkat provinsi hingga mancanegara.
Sang Pelestari yang Tak Pernah Lelah
Bagi Marlia, seni bukan sekadar panggung, melainkan jiwa yang menyatu dengan alam. Ia percaya bahwa setiap puisi, dongeng, dan pantun adalah bagian dari doa bumi Kalimantan yang terus bergema.
Prestasi demi prestasi ia torehkan, antara lain:
- Juara 1 Tradisi Lisan “Konser Kecemasan” di Hong Kong
- Juara 2 Baca Puisi Gaksa di Kuala Lumpur
- Juara 2 Puisi Tradisional di Hong Kong
- Lebih dari 130 penghargaan lainnya, baik di tingkat lokal, nasional, maupun internasional.
Tak berhenti di panggung, Marlia juga menulis antologi puisi berjudul Swarga Poetica yang menjadi refleksi kecintaannya terhadap alam Kalimantan. Ia juga menjadi sutradara dalam berbagai pentas besar seperti Swarga Kaanan Borneo (PKD 2022) dan Lunang Telang Ota Ine yang tampil memukau di Kaltim Ethnic World Music Festival.
Jejak di Dunia Film
Selain di dunia teater, Marlia turut berkiprah di dunia film. Ia pernah menjadi asisten sutradara (astrada) dalam film Balada Enggang, serta berperan sebagai pemain dalam film Cermin Karmin bersama aktor senior Piet Pagau.
Keterlibatan itu memperlihatkan kemampuannya menjembatani antara seni panggung tradisi dan medium modern seperti sinema.
Pengakuan Resmi dan Dedikasi
Sebagai seniman profesional, Marlia telah mengantongi Sertifikasi Sutradara Teater dari BNSP dan SK Tradisi Lisan dari KBSN Kalimantan Timur. Dengan keduanya, ia bukan hanya seniman, tetapi juga penjaga budaya resmi yang diakui oleh negara dan masyarakat seni.
Menjaga Jiwa Kalimantan
“Melestarikan tradisi lisan berarti menjaga napas leluhur dan roh hutan Kalimantan,” ujar Marlia suatu kali.
Kalimat itu kini menjadi semboyan perjuangannya. Dari panggung ke panggung, dari sekolah ke festival, ia terus menyalakan bara kesenian agar tak padam di generasi berikutnya.
Dengan langkah sederhana namun teguh, Marlia Susana telah menjadi suara yang lahir dari tanah Borneo, suara yang membawa pesan, bahwa budaya bukan untuk dikenang, tetapi untuk dihidupkan.(ts)









